After I read a news about computer forensic competition from an information security blog, suddenly I had an urge to start working with this interesting case. One blog said this case was fairly easy and could be done by only utilizing freely available open-source computer forensics tools, such as PyFlag or Autopsy. Thus I said to myself that I will definitely prove this stimulating statement and finalize the investigation with a conclusive result before the submission date (20/08/2008).
Since PyFlag was quite new for me, I need to do several tasks before I finally started working with the real forensic stuffs. Firstly, of course, I had to install PyFlag into my Ubuntu box. Actually, the installation itself wasn’t complex and time consuming, nevertheless I still spent some time to properly fine-tune PyFlag before I was able to use it by configuring MySql connection, PyFlag configuration file and later by adding some components into it. Then, I started to download the image file and finally put this file into the ‘upload’ directory.

After thoroughly examined the image file, I was finally able to solve the whole problems and found the associated files within two days.
The following list summarized my findings:
- A network analysis tool.
- A network security tool which could be used as a backdoor.
- A virtual encrypted disk.
- An mp3 file.
- Metasploit documents.
The last step to conclude this case is to provide an adequate forensic report. However, since I have a plan this weekend to go abroad with my beloved wife
, I will postpone the report and will plan to finish it afterwards.
In addition, at December 2007, I also worked with a similar computer forensic challenge during the first semester of my graduate program. Unfortunately, the magazine is no longer providing the information. However I still have the record of the case explanation as follows:
Forensic Challenge
The terror suspect “X” has been captured after a police raid. In his house the police discovered some advanced bomb making equipment, five computers and an extraordinary number of penguin soft toys. The hard drives of the computers all appear to be encrypted and X is maintaining his right to silence. Because of this the investigation is not going much further forward, although it is suspected that a terrorist attack is planned. Then a memory card is discovered in X’s camera but there are no photos on it. The police suspect that there is information on the card which could be used to prevent an attack. For that reason they’ve come to you, the forensic expert. Your job is to retrieve the information from the card as quickly as possible and save many lives.
The challenge (De uitdaging)
The Digital Forensics unit of HB bv. has created a fictional forensics challenge. Your task is to investigate and analyse digital forensic evidence. The evidence is a forensic image of an mmc-card from a camera. What makes this challenge unique is that you are part of a secret police unit that is investigating the threat of a terrorist attack. Before you begin the challenge it is useful to read the police report to gain some background information, just as in other investigations. Finding the answers to the following questions and preventing a terrorist attack will depend on your technical skills.
Questions to be answered (De onderzoeksvragen)
1. Who are the other terrorists and when is the attack planned?
2. What is the target of the attack?
3. For every relevant file explain what X (the suspect) has done to hide the data from others.
4. Explain how you, the forensic expert, obtained the information.IMPORTANT! In order to judge the entries the MD5 hash of the recovered files must be included.
Download the image to be investigated from here.
Judging the entries (Beoordeling van de inzendingen)
Entries need to be sent to forensics @ xxx and info @ themagazine by 23:59 on 31 december 2007.
Even though I was finally able to solve the case, I didn’t actually send the result to the magazine at that time. I only sent the result to my lecturer since it was done as my final project for his course.
To successfully investigate this case, several tools were used during the investigation process. The list of tools and image file are presented as follows:
- Image file (MMC acquired image file). Updated on August 21st, 2008 0:05 CEST*
- Final report of forensic challenge.
References:
- http://www.shortinfosec.net/2008/07/competition-computer-forensic.html
- http://computer.forensikblog.de/en/2008/07/a_challenge.html
- http://www.shortinfosec.net/2008/07/tutorial-computer-forensics-evidence.html
- http://www.shortinfosec.net/2008/07/tutorial-computer-forensics-process-for.html
- http://www.pyflag.net/cgi-bin/moin.cgi
- http://www.sleuthkit.org/
* If someone found that the image file is protected by copyright law and licenced to a specific organization, feel free to post a notification in this article.
Filed under: Computer Forensics | 5 Comments
Tags: autopsy, Computer Forensics, pyflag
Bubur Sumsum Sore-Sore
Sebenarnya sore ini saya sama sekali tidak ada niat untuk masak atau mencoba resep apapun. Tapi setelah istriku ini meminta dengan sangat melalui rayuan mautnya
, akhirnya saya kembali mencoba membuat bubur sumsum yang sebelumnya pernah kita buat namun tidak begitu berhasil. Setelah kembali melihat resep di internet, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba ‘versi kecil’ dari resep ini. Tanpa bantuan timbangan ataupun alat ukur lainnya, saya bulatkan tekad hi..hi..hi.. untuk membuat masakan ini.
Bahan tepung beras yang mestinya 100 gram, saya masukkan kira-kira 50 gram kedalam panci. Kira-kira versi saya ini benar-benar perkiraan saya semata berdasarkan pandangan mata
. Lantas, santan 650 ml, saya masukkan sekitar kira-kira lebih dari 300 ml. Dan akhirnya garam secukupnya. Sebenarnya satu bahan lagi yakni daun pandan juga diperlukan berdasarkan resep ini, namun karena sulit sekali mencari daun pandan di Eindhoven, kita memutuskan untuk membuatnya seadanya saja. Oya, siapa saja yang bisa memberikan informasi dimana kita bisa beli daun pandan di Eindhoven sangat kita terima…
Seterusnya saya tinggal mengikuti saja langkah-langkah yang dibutuhkan sebagaimana yang tertera di resep tersebut. Walhasil, setelah setengah jam lebih mengaduk-aduk, mulai tampak adonan ini membentuk bubur sumsum seperti yang kita inginkan. Berbeda sekali dengan waktu pertama kali saya buat. Adonan kali ini benar-benar membentuk bubur sumsum dengan sempurna, kalau boleh dibilang begitu
. Walaupun sebenarnya saya benar-benar tidak yakin akan rasanya.
Setelah bubur sumsum, selanjutnya saya buat saus gula aren ‘versi kecil’ sebagaimana yang tertulis dalam resep. Setelah mengikuti pentunjuk dan tahap-tahapnya, akhirnya saus ini jadi juga. Dan kemudian, bubur sumsum serta saus gula aren ini saya masukkan bersama-sama dalam satu mangkuk.
Setelah selesai, saya mencobanya terlebih dahulu. Maklum, saya ngga begitu yakin walaupun tampaknya sih cukup menyakinkan sebagaimana yang terlihat di foto
. Dan, waduh, kok uenak tenan ya. Rasanya benar-benar seperti bubur sumsum yang pernah saya makan dulu. Ngomong-ngomong, kapan ya terakhir saya makan bubur sumsum?
Selanjutnya, saya minta Nelly juga mencoba bubur sumsum ini, dan ternyata dia juga cukup wah dengan hasilnya. Lantas, tanpa banyak komando, bubur sumsum yang cuma semangkuk itu kita habiskan berdua dalam waktu kurang dari 15 menit. Puas rasanya melihat istriku ini menikmati sekali bubur sumsum yang saya buat. Mungkin lain waktu, kalau ada resep lain yang Nelly inginkan, pastinya saya akan segera coba. Ehm, jadi lebih pede masak nih…
Eindhoven, 20 Juli 2008
Referensi:
http://www.dunia-ibu.org/html/bubur_sum_sum.html
Filed under: My Life | 8 Comments
Tags: Bubur Sumsum, Masakan
Menyelami ‘the Dark Amsterdam’
Untuk yang ketiga kalinya, saya dan istri kembali mengunjungi kota Amsterdam, the Sin City. Kota yang bernama asal Amstelledamme [1] ini bisa dibilang tidak pernah sepi pengunjung. Wisatawan dan penduduk lokal berbaur dan berkumpul disepanjang pertokoan, rumah makan dan pusat kota dekat Rembrandt monumen. Sebagaimana tujuan awal, perjalanan pertama kita mulai dengan mengelilingi kota Amsterdam menggunakan kapal penumpang dari Rederij Plas.
Tur 1 jam melalui air ini mengantarkan kita berdua pada tempat-tempat bersejarah dan eksotis disepanjang kanal-kanal yang melewati kota Amsterdam. Sebagai kota yang terkenal dengan 100 kanal dan 1000 jembatannya, kehidupan kota ini memang tidak lepas dari pengaruh dan keberadaan kanal-kanal tersebut. Rumah perahu yang indah, bangunan-bangunan unik, jembatan-jembatan serta terowongan-terowongan yang tersebar disepanjang kanal membuat pemandangan melalui air di kota Amsterdam terasa menyegarkan dan juga romantis tentunya
.
Sebenarnya setelah canal trip, kita punya rencana mengunjungi Madame Tussaud di pusat kota Amsterdam, tapi setelah melihat-lihat, kita agak tertarik untuk mengunjungi Amsterdam Dungeon, sebuah atraksi yang awalnya sama sekali ngga kebayang apa isi didalamnya. Setelah memutuskan dan menimbang-nimbang apakah kita akan memilih atraksi ini atau mengunjungi Torture Museum saja, kita berdua akhirnya memberanikan diri masuk ke tempat ini, yang ternyata merupakan tempat hiburan bernuansa horor dan sangat menyeramkan atau lebih tepatnya mengerikan karena apa yang ada disajikan disini sama sekali tidak mengedepankan unsur mistis, melainkan ekspresi sejarah kelam bangsa Eropa dalam wujud inquisition dan cerita-cerita ‘hitam’ diseputarnya. Informasi lebih lengkap mengenai atraksi ini dapat ditemui di [2].
Saat awal masuk saja, kita diminta untuk berfoto dengan pose akan dipancung. Nelly memegang pisau besar layaknya Reaper yang akan segera mencabut nyawa sang korban. Tapi sayang
, karena masalah kamera, foto tersebut ngga jadi. Kita berdua, bersama pengunjung lain dari Jerman (5 orang) dan Belanda (2 orang), mengawali atraksi ini dengan menaiki elevator turun 4 lantai kebawah. Yang menggelikan dan pastinya menegangkan buat Nelly adalah tampaknya para ‘dedemit’ Amsterdam Dungeon menyukai Nelly dengan seringnya menjadikan istriku ini sebagai obyek untuk ditakut-takuti, hi..hi..hi..
Setelah itu kita semua harus menunggu di ruangan penyiksaan menyaksikan beragam alat siksa replika peninggalan masa-masa inquisition yang versi aslinya dapat ditemui di Torture Museum. Disana pula kita dikumpulkan dalam satu ruangan, diceramahi dan dijelaskan oleh seorang priest bagaimana alat-alat tersebut digunakan pada manusia. Selanjutnya kita diarahkan dan ditipu untuk menjadi budak oleh Soul Mercant yang kemudian menggiring kita menuju kapal VOC untuk dipekerjakan disana. Didalam kapal tersebut kita dipertontonkan dengan adegan sadis operasi pemotongan organ secara kasar karena tidak adanya cukup pengetahuan pada masa itu untuk melakukan operasi yang sesungguhnya. Setelah puas dengan pemandangan aneh itu
, akhirnya kita menuju ke Council of Blood, sebuah tempat untuk mengadili dan menghukum secara sadis para pendurhaka, pencuri dan pembunuh. Ditempat ini, Nelly kembali jadi pusat perhatian dengan dua kali diadili karena alasan yang tidak masuk akal
.
Setelah selesai diadili, Nelly diminta untuk masuk sendirian kesebuah ruangan gelap yang ketika dia mau masuk, pintunya tiba-tiba terbuka dan menutup dengan sendirinya
. Karena takut dan menyeramkan, akhirnya Nelly diizinkan masuk berdua dengan saya. Walaupun mau diizinkan atau tidak, saya tetap akan nemenin dia kok hi..hi..hi.. Ditempat ini, kita berdua merasakan pengalaman spektakuler yang baru pertama kali kita rasakan ditempat sejenis ini. Diruangan gelap dengan sedikit cahaya ini, kita diperdengarkan cerita mistis dan menyeramkan. Lalu tiba-tiba, byar.. lampu padam dan sang pencerita sudah berada ditempat lain. Kali kedua lampu padam dan ternyata sang pencerita sudah tidak ada. Lantas, kita melihat lilin bergerak dengan sendirinya, suara retakan dari bawah tempat duduk, angin dingin bertiup dari belakang dan yang paling seram suaru derit pintu yang kemudian diikuti dengan ketukan keras dan diakhiri dengan suara pintu terbanting-banting selama beberapa lama disamping kita. Semua terjadi dalam kondisi cahaya remang-remang. Dan entah sengaja atau tidak, tempat duduk dimana Nelly diarahkan untuk duduk adalah tempat yang bergerak paling kencang dan menimbulkan suara derit yang menyeramkan hingga membuat Nelly berulang kali teriak ketakutan.
Belum selesai rasa tegang yang kita alami, kita sekelompok selanjutnya segera diarahkan menuju Amsterdam Labirinth, sebuah rumah kaca yang harus kita telusuri. Yang unik ditempat ini adalah saat kita berjalan, disalah satu kaca muncul pula bayangan ‘dedemit’ yang membuat suasana perjalanan menyusuri labirin ini terasa lebih menegangkan. Setelah berhasil melewati labirin gelap kota Amsterdam, kita masuk ketempat dimana disana dipertontonkan kondisi kota tersebut antara tahun 1663 dan 1664 saat penyakit menular menyerang kota ini dan menewaskan 24.148 jiwa di kota Amsterdam saja. Sehabis melihat diorama ini, kelompok ini dibagi dua menuju ke arena Reaper Drop Ride. Ditempat ini kita menaiki kendaraan jet coaster yang berjalan menukik dan berbelok-belok melalui lorong-lorong gelap dibawah tanah Amsterdam Dungeon. Setelah melalui turunan tajam akhirnya kendaraan ini berhenti dan kita segera keluar mengakhiri seluruh atraksi ditempat ini selama kurang lebih 1 jam.
Setelah beristirahat sejenak dan melihat pertunjukkan jalanan di pusat kota Amsterdam, kita menuju ke arah jalan Damrak untuk mengunjungi the world’s first and oldest sex museum, the “Venustempel” in Amsterdam. Museum dengan tema seks ini menginformasikan kepada pengunjung sejarah seks dari masa ke masa disertai dengan sejumlah besar koleksi foto-foto, lukisan, gambar, obyek-obyek, rekaman, dan bahkan atraksi-atraksi khusus
. Sebelum mengakhiri perjalanan di kota Amsterdam ini, kita berdua kembali mengunjungi tempat yang paling terkenal di kota ini, Red Light District, untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu kita berdua. Ditempat yang dominan dengan bau ganja ini, kita berdua memutuskan untuk segera pulang dan mengakhiri penjalanan experiencing the dark of Amsterdam. Saat hendak pulang, hampir saja terjadi kecelakaan didepan mata kita berdua disebabkan seorang turis asal Korea Selatan tidak hati-hati menyeberangi jalan dan hampir saja ditabrak oleh Trem yang sedang melintas. Untungnya Nelly yang tampak terkejut segera berteriak keras kearah orang tersebut. Uniknya, setelah kejadian ini kita berdua dan Byung-Gue Park, si turis asal Korea Selatan ini, malah saling berkenalan dan bertukar alamat email
.
Jika diambil hikmahnya, perjalanan yang tidak biasa dari tempat ini memang menyajikan banyak sekali pelajaran dan pengetahuan. Sebuah perjalanan yang tidak hanya membuka wawasan dan pengalaman tapi juga pengertian bahwa ternyata manusia, sejak awal keberadaannya hingga detik ini tidak pernah luput dari kesengsaraan dan penyimpangan. Mungkin disebabkan kita manusia, kita sanggup membuat kesengsaraan diluar batas kemanusiaan, karena tampaknya buat binatang sekalipun, tidak ada kesengsaraan yang dibuat oleh mereka berada diluar batas kebinatangan.
Referensi:
- http://www.amsterdam.info/basics/history/
- http://www.thedungeons.com/en/amsterdam-dungeon/guide.html#content
- http://europeforvisitors.com/amsterdam/articles/amsterdam-dungeon.htm
- http://www.geocities.com/christprise/holy-inquisitions-2.html
Filed under: My Life | 6 Comments
Tags: Amsterdam, Amsterdam Dungeon, Canal Trip, Madame Tussaud, Red Light District, Sex Musem
GMail New Privacy Settings – Remote Log Out, Logged In Stats & IP Address!
Once more, Google had came up with a smart idea of introducing a privacy setting in GMail that shows information about your last activity on your account and also whether you are logged onto the account on any other device. This idea was here to protect Gmail users detecting compromised accounts. See the following articles for more information:
- http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/07/10/16055470/gmail.diamankan.google
- http://www.watblog.com/2008/07/08/gmail-introduces-new-privacy-settings-remote-log-out-logged-in-stats-ip-address/
Hot Air Ballooning at Eindhoven!
On July 13th, at Netherlands – Eindhoven, there are several gas ballons flying up in the sky. This wonderful event was organized by Exclusive Balloning.
See the following web site for more information: http://www.ballooncalendar.com/
Google is Watching, so does Microsoft
Undeterred by the persistent worries of privacy advocates and government officials that it knows too much, Google and Microsoft hunger for more data.
Filed under: Weekly Updates | Leave a Comment
Tags: Weekly Updates
Jejak Masa Lalu di Leiden
Hari ini, saya dan istri, berkesempatan menengok sebuah kota lama yang ternyata, selain nilai seninya, juga punya cerita yang unbelievable nilainya tentang sejarah masa lampau Indonesia. Dilihat dari sisi manapun, bisa dibilang kota ini memang benar-benar Indah. Dilalui sejumlah kanal, kaya dengan monumen dan bangunan-bangunan lama yang indah, membuat perjalanan di kota Leiden benar-benar memberikan nuansa yang berbeda.
Perjalanan kita dimulai dengan kunjungan ke salah satu kincir angin di Kota ini, Windmolen De Valk. Kemudian berjalan menyusuri kanal, melewati beberapa jembatan, bangunan-bangunan lama seperti Gemeente Leiden, gereja-gereja kuno, reruntuhan bangunan dan monumen-monumen. Sewaktu mengambil foto, beberapa penduduk Leiden yang ramah menawarkan bantuannya mengambil foto kita berdua. Bahkan kita sempat bertemu dengan salah satu warga Indonesia yang juga menawarkan hal yang sama. We really appreciated it! Untuk melihat lebih jelas pemandangan yang kita ambil dalam perjalanan sepanjang kota Leiden, sebagian koleksinya bisa diakses disini.
Sebagai kota tempat lahir pelukis termasyhur Rembrandt van Rijn, tentunya belum puas jika kita berdua belum melihat monumen yang menandai keberadaan pelukis tersebut di kota ini. Apalagi kata-kata Rembrandt di kota ini bisa dijumpai di mana-mana. Dari toko kecil, nama jalan bahkan hotel besar. Inilah yang kemudian membuat kita ingin sekali mencari monumen atau patung yang menandai hidup Rembrandt di kota ini. Bahkan, Nelly, begitu antusiasnya mencari patung ini sampai harus bertanya kesana kemari hingga akhirnya salah satu mahasiswa S3 di Leiden, yang kebetulan bersapaan dengan kita berdua, memberitahu keberadaan patung Rembrandt ini. Yang ternyata, sangat dekat dari lokasi centraal bibliotheek (perpustakaan pusat) Universiteit Leiden. Dengan senangnya, istriku ini berpose didepan Rembrandt
. Walaupun sebenarnya, saat awal perjalanan, kita juga sudah berfoto ria didepan papan iklan yang merayakan 400 tahun Rembrandt.
Belum lengkap rasanya, berkunjung ke Leiden tanpa melihat Universiteit Leiden yang terkenal dengan kajian Indonesianya ini. Saat awal, sebenarnya kita bingung sekali menemukan dimana lokasi Universiteit Leiden. Tapi akhirnya setelah berjalan beberapa saat, kita menemukan juga tanda-tanda keberadaan universitas ini
. Setelah akhirnya melihat peta kampus, kita baru ngeh bahwa lokasi gedung disini memang terpisah-pisah. Tempat pertama yang dikunjungi, sebenarnya, adalah Botanical Garden yang cukup mahsyur dengan pengembangan tulipnya itu di abad pertengahan. Cuma kita baru sadar setelah kita berjumpa dengan salah seorang kawan dari Universiteit Leiden, yang menginformasikan kita kalau tempat itu adalah Botanical Garden-nya Universiteit Leiden. Ditempat itu pula kita menemukan buah kata Multatuli yang ditujukan untuk Prof. Veth (kalau ingin mengetahui artinya silahkan translate di Google). Koleksi foto yang kita ambil di Universiteit Leiden selebihnya bisa diakses disini.
Multatuli sendiri, tentunya tidak asing buat kita. Bukunya yang berjudul Max Havelaar paling tidak, pernah kita dengar saat sekolah dulu. Saat membaca kata Multatuli, saya jadi termenung dan teringat betapa banyak kekayaan informasi masa lalu Indonesia tersimpan dikota ini. Sampai-sampai penelitian mengenai ke-Indonesiaan harus berkiblat ketempat ini [1]. Hal ini semakin jelas saat Pak Sujadi mengantar kami berdua ke gedung KITLV [2], tempat berpusatnya kajian Indonesia dan dokumen-dokumen penting sejarah Indonesia. Banyaknya dokumen dan informasi yang terkumpul disini, tentunya bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pihak manapun di Indonesia selama ada keinginan.
Salah satu aspek manarik dari sejarah yang ingin saya ketahui adalah sejarah kota dimana saya berasal, kota Depok, Jawa Barat. Beberapa pihak baik lembaga, seperti Pemda Depok, atau perorangan, mencoba menjelaskan asal kata kota dimana saya tinggal tersebut. Namun hanya penjelasan berikut, dari sebuah situs, yang dapat membuat saya cukup mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“If explanation for the name Depok is usually claimed that it is an acronym with the meaning: ‘The First Protestant Overseas Kristengemeente. This is not the original meaning, since the name Depok already existed before there was a Christian community. The actual meaning of Depok is: ‘Residence of someone who lives in seclusion. ” And this sense does justice to the life of Chastelein: ‘center in this world but not of this world.”
Dengan mengaca dan belajar betul dari sejarah, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Karena sejarah bukan cuma angka-angka tanggal dan tahun semata, namun juga jejak masa lalu yang tertinggal dari nenek moyang kita.
Referensi:
- Nyai Roro Kidul, http://en.wikipedia.org/wiki/Nyi_Roro_Kidul. Accessed on July 8th, 2008, 23:35.
- KITLV singkatan dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Royal Institute of Linguistics and Anthropology), http://acronyms.thefreedictionary.com/KITLV.
- Monumen ini bercerita tentang Oost-Indische Leger (Tentara Hindia Timur) yang tidak kembali dari Hindia Timur. Mungkin wafat atau hilang. Gambar-gambar retro tentara hindia timur bisa diakses disini.
Alamat:
- KITLV University, Reuvensplaats 2, 2311 BE Leiden, Holland, tel. +31(0)71 527 2295, fax +31 (0)71-527.
- KITLV Office in Jakarta,Jalan Prapanca Raya 95 A, Kebayoran Baru, Jakarta 12150, Phone:+62-(0)21-7399501
Informasi Museum Terkait di Amsterdam:
- The Rembrandt House Museum; Jodenbreestraat 4, Amsterdam.
- The Multatuli Museum; Korsjespoortsteeg 20, Amsterdam.
Filed under: My Life | 4 Comments
Tags: Indonesia, Leiden, Netherlands, Sejarah, Windmolen
Doe de ‘Ciliwung’
Pagi yang indah untuk memulai hari. Puji syukur, seperti yang telah direncanakan, hari ini saya dan istri kembali pergi keluar untuk menikmati hari. Agenda hari ini adalah melihat acara ‘Doe de Dommel’ di sepanjang sungai Dommel, Eindhoven. Dari awal sih niatnya mau menyusur sepanjang sungai tersebut, tapi karena ternyata sungainya memang cukup panjang dan kita berdua harus berjalan kaki, maka kita cuma bisa melihat atraksi seputar kampus TU/e saja.
Pertama kali datang, kita langsung melihat atraksi alam di sepanjang sungai Dommel. Ada permainan tali keseimbangan, tali luncur dan olahraga kayak. Tapi, kita memutuskan menunggu teman yang akan datang, mas Zalfani dan mbak Desi, tiba dulu, baru akhirnya kita mulai melihat-lihat atraksi tersebut. Jika diperhatikan, sebenarnya atraksi-atraksi ini memang ditujukan buat keluarga. Banyak anak-anak yang aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sebuah konsep yang menarik. Karena sungai Dommel sepertinya memang sudah jadi bagian penting dari wisata kota di sini. Infonya bisa diperoleh di situs DommeldoorEindhoven.
Selanjutnya, istriku, Nelly dan mbak Desi memutuskan untuk bermain kayak berduaan. Lucu banget ngeliat ekspresi Nelly yang ketakutan pas mau masuk kedalam sungai. Dan tampaknya, pengalaman pertama istriku ini, benar-benar akan membekas sekali sepanjang hidupnya
. Walaupun setelah itu pegal-pegal, saya tahu dia pasti puas banget. Salut buatmu honey.
Mengakhiri hari ini kita jalan-jalan kearah patung bola boling besar didepan TU/e dan stasiun kereta. Awalnya sih, ngga ada rencana buat foto-foto, tapi setelah melihat turis lain foto-foto, kita berdua ngga tahan juga untuk ngga mengeluarkan kamera kita hi..hi..hi..
Mengaca dari aktifitas hari ini, saya jadi berpikir kota tempat tinggal saya, de Volk
,
Depok maksudnya. Ada ngga ya aktifitas seperti ini. Saya berpikir, alangkah baiknya bila ada panduan dan informasi mengenai wisata kota yang bisa diakses semua orang secara gratis tanpa harus berkunjung kesana kemari. Akhirnya saya liat situs Pemda Depok. Ehm, kosong melompong isinya. Padahal ada link yang tertulis wisata kota, wisata kuliner, bahkan jelas-jelas tertulis event hiburan masyarakat. Tapi semuanya kosong, tengok pula informasi di situs Wisata Melayu. Juga kosong. Paling-paling hanya ada satu tempat yang diberitakan Kompas.
Saya jadi ingat sungai Ciliwung, gimana ya kalo seandaianya warga Depok dan Pemda-Nya bisa memanfaatkan betul fungsi sungai buat mereka, mungkin ngga akan kalah dengan disini. Dari awal kota Depok pasti sudah punya yang namanya ‘Doe de Ciliwung’ alias Wisata Kali Ciliwung. Ehm, sounds interesting.
Mudah-mudahan ini bukan cuma kegundahan saya semata. Saya yakin banyak pihak dan keluarga di kota Depok yang mengerti betul arti Ciliwung buat mereka. Apalagi buat perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sepanjang sungai Ciliwung. Saya pikir, aktifitas seperti kebersihan sungai dan dukungan terhadap aktifitas yang mengarah pada kecintaan kita akan lingkungan adalah juga tanggung jawab mereka.
Eindhoven, 7 Juli 2008
Filed under: My Life | Leave a Comment
Tags: Dommel, Eindhoven, Netherlands
My First Post…
Akhirnya, kesampean juga mulai nulis di Blog. Hopefully, saya bisa rajin nulis di Blog ini.
Ga nyangka juga, udah hampir 6 bulan saya di sini. Ga terasa banyak hal yang telah dilalui dan dirasakan. Ada kebahagiaan, kesulitan, penyesalan dan semangat. I pray to Allah, semoga saya bisa melalui semua ini dengan baik…
Eindhoven, February 21st, 2008
Filed under: My Life | 1 Comment
Search
-
Blogroll
Campus & Research
Indonesia
My Utils
Security Resources
Recent Entries
Categories
- Computer Forensics (1)
- My Life (5)
- Social Informatics (1)
- Weekly Updates (1)



























