Jejak Masa Lalu di Leiden
Hari ini, saya dan istri, berkesempatan menengok sebuah kota lama yang ternyata, selain nilai seninya, juga punya cerita yang unbelievable nilainya tentang sejarah masa lampau Indonesia. Dilihat dari sisi manapun, bisa dibilang kota ini memang benar-benar Indah. Dilalui sejumlah kanal, kaya dengan monumen dan bangunan-bangunan lama yang indah, membuat perjalanan di kota Leiden benar-benar memberikan nuansa yang berbeda.
Perjalanan kita dimulai dengan kunjungan ke salah satu kincir angin di Kota ini, Windmolen De Valk. Kemudian berjalan menyusuri kanal, melewati beberapa jembatan, bangunan-bangunan lama seperti Gemeente Leiden, gereja-gereja kuno, reruntuhan bangunan dan monumen-monumen. Sewaktu mengambil foto, beberapa penduduk Leiden yang ramah menawarkan bantuannya mengambil foto kita berdua. Bahkan kita sempat bertemu dengan salah satu warga Indonesia yang juga menawarkan hal yang sama. We really appreciated it! Untuk melihat lebih jelas pemandangan yang kita ambil dalam perjalanan sepanjang kota Leiden, sebagian koleksinya bisa diakses disini.
Sebagai kota tempat lahir pelukis termasyhur Rembrandt van Rijn, tentunya belum puas jika kita berdua belum melihat monumen yang menandai keberadaan pelukis tersebut di kota ini. Apalagi kata-kata Rembrandt di kota ini bisa dijumpai di mana-mana. Dari toko kecil, nama jalan bahkan hotel besar. Inilah yang kemudian membuat kita ingin sekali mencari monumen atau patung yang menandai hidup Rembrandt di kota ini. Bahkan, Nelly, begitu antusiasnya mencari patung ini sampai harus bertanya kesana kemari hingga akhirnya salah satu mahasiswa S3 di Leiden, yang kebetulan bersapaan dengan kita berdua, memberitahu keberadaan patung Rembrandt ini. Yang ternyata, sangat dekat dari lokasi centraal bibliotheek (perpustakaan pusat) Universiteit Leiden. Dengan senangnya, istriku ini berpose didepan Rembrandt
. Walaupun sebenarnya, saat awal perjalanan, kita juga sudah berfoto ria didepan papan iklan yang merayakan 400 tahun Rembrandt.
Belum lengkap rasanya, berkunjung ke Leiden tanpa melihat Universiteit Leiden yang terkenal dengan kajian Indonesianya ini. Saat awal, sebenarnya kita bingung sekali menemukan dimana lokasi Universiteit Leiden. Tapi akhirnya setelah berjalan beberapa saat, kita menemukan juga tanda-tanda keberadaan universitas ini
. Setelah akhirnya melihat peta kampus, kita baru ngeh bahwa lokasi gedung disini memang terpisah-pisah. Tempat pertama yang dikunjungi, sebenarnya, adalah Botanical Garden yang cukup mahsyur dengan pengembangan tulipnya itu di abad pertengahan. Cuma kita baru sadar setelah kita berjumpa dengan salah seorang kawan dari Universiteit Leiden, yang menginformasikan kita kalau tempat itu adalah Botanical Garden-nya Universiteit Leiden. Ditempat itu pula kita menemukan buah kata Multatuli yang ditujukan untuk Prof. Veth (kalau ingin mengetahui artinya silahkan translate di Google). Koleksi foto yang kita ambil di Universiteit Leiden selebihnya bisa diakses disini.
Multatuli sendiri, tentunya tidak asing buat kita. Bukunya yang berjudul Max Havelaar paling tidak, pernah kita dengar saat sekolah dulu. Saat membaca kata Multatuli, saya jadi termenung dan teringat betapa banyak kekayaan informasi masa lalu Indonesia tersimpan dikota ini. Sampai-sampai penelitian mengenai ke-Indonesiaan harus berkiblat ketempat ini [1]. Hal ini semakin jelas saat Pak Sujadi mengantar kami berdua ke gedung KITLV [2], tempat berpusatnya kajian Indonesia dan dokumen-dokumen penting sejarah Indonesia. Banyaknya dokumen dan informasi yang terkumpul disini, tentunya bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pihak manapun di Indonesia selama ada keinginan.
Salah satu aspek manarik dari sejarah yang ingin saya ketahui adalah sejarah kota dimana saya berasal, kota Depok, Jawa Barat. Beberapa pihak baik lembaga, seperti Pemda Depok, atau perorangan, mencoba menjelaskan asal kata kota dimana saya tinggal tersebut. Namun hanya penjelasan berikut, dari sebuah situs, yang dapat membuat saya cukup mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“If explanation for the name Depok is usually claimed that it is an acronym with the meaning: ‘The First Protestant Overseas Kristengemeente. This is not the original meaning, since the name Depok already existed before there was a Christian community. The actual meaning of Depok is: ‘Residence of someone who lives in seclusion. ” And this sense does justice to the life of Chastelein: ‘center in this world but not of this world.”
Dengan mengaca dan belajar betul dari sejarah, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Karena sejarah bukan cuma angka-angka tanggal dan tahun semata, namun juga jejak masa lalu yang tertinggal dari nenek moyang kita.
Referensi:
- Nyai Roro Kidul, http://en.wikipedia.org/wiki/Nyi_Roro_Kidul. Accessed on July 8th, 2008, 23:35.
- KITLV singkatan dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Royal Institute of Linguistics and Anthropology), http://acronyms.thefreedictionary.com/KITLV.
- Monumen ini bercerita tentang Oost-Indische Leger (Tentara Hindia Timur) yang tidak kembali dari Hindia Timur. Mungkin wafat atau hilang. Gambar-gambar retro tentara hindia timur bisa diakses disini.
Alamat:
- KITLV University, Reuvensplaats 2, 2311 BE Leiden, Holland, tel. +31(0)71 527 2295, fax +31 (0)71-527.
- KITLV Office in Jakarta,Jalan Prapanca Raya 95 A, Kebayoran Baru, Jakarta 12150, Phone:+62-(0)21-7399501
Informasi Museum Terkait di Amsterdam:
- The Rembrandt House Museum; Jodenbreestraat 4, Amsterdam.
- The Multatuli Museum; Korsjespoortsteeg 20, Amsterdam.
Filed under: My Life | 4 Comments
Tags: Indonesia, Leiden, Netherlands, Sejarah, Windmolen
Search
-
You are currently browsing the Lesky's Personal Weblog weblog archives.










Saya ingin mencari informasi tentang kerajaan kecil di Seuneuam Kecamatan Darul Makmur, Kalau dulu Kabupaten Aceh Barat, sekarang Kabupaten Nagan Raya Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada masa penjajahan Belanda, Kakek Saya bernama Tuankoe Abdullah pernah memimpin kerajaan di Seuneuam dan sekitar tahun 1930 – 1942 kakek saya pernah menerima sewa tanah dari Belanda. Saya ingin tanya apakah bukti sewa menyewa itu ada tersimpan di Negara Belanda, mengingat bukti sewa itu tidak ada lagi pada ahli waris.
Ttd
Tgk Dewi Almardiahni
mo tanya sedikit tentang film yang menceritakan pemalsuan lukisan rembrandt van rijn… anda tau gak judul filmnya apa? teyimakasih
Your Highness;
I can help you.My institute researches the kerajaan2 Indonesia.
Mail me at my e-mail.
Please;explain your question more precise.
Hormat saya:
DP Tick gRMK
Terima kasih buat informasinya. Saya akan forward email Bapak ke ibu Dewi.